Friday, January 11, 2013

tugas 97-delegasi



1.delegasi kekuasaan
1. Pengertian Delegasi
Salasatu demensi pengelolaan  yang penting adalah delegasi (Delegation) secara singkat dapat dikatakan bahwa delegasi adalah pemberian sebagaian tanggung jawab dan kewibawaan kepada orang lain (Charles J. Keating : hal. 1991). Lebih lanjut lagi Taiylor, (1993 : 68) Mengatakan bahwa pendelegasian adalah suatu proses untuk mengembangkan  pegawai pegawai anda.  P. Jenks (1991: 45) Dalam bukunya Delegas kunci management menyatakan bahwa  Menjadi seorang delegator yang baik adalah merupakan suatu proses belajar maupun sebagai suatu cara untuk memperoleh hasil yang spesifik.
Jadi dengan mengadakan delegasi itu kita mengakui bahwa kita membutuhkan  bantuan orang lain dalam mengemban tanggung jawab  kita, mengajak orang lain  untuk ikut serta  dalam kerja kita dan memberikan kepadanya bagian dari tugas tugas kita, kita memberikan kepadanya kekuasaan  untuk melaksanakan tugas itu. Kita menciptakan tanggung  jawab pada orang yang kita beri  delegasi itu dalam hubungan dengan kita  sejajar dengan pertanggung jawaban kita kepada atasan kita, Bila kita mengadakan delegasi kita minta kepada orang lain agar ikut serta memikul sebagai tanggung jawab dari tugas tugas kita. Kita memberi kepada kewibawaan, hak untuk membuat  keputusan di bidang yang ada dalam lingkup tugas yang kita berikan kepadanya.
Defenisi dan makna delegasi penulis dapat merumuskan bahwa, Delegasi adalah pemberian otorisasi atau kekuasaan formal dan tanggung jawab untuk melaksanakan kegiatan tertentu kepada orang lain. Pelimpahan otoritas oleh atasan kepada bawahan diperlukan agar organisasi dapat berfungsi secara efisien karena tak ada atasan yang dapat mengawasi secara efisien karena tak ada atasan yang dapat mengawasi secara pribadi setiap tugas-tugas organisasi. Menurut taylor tujuan dari pendelegasian suatu tugas tidaklah meguji bawahan inilah bukan pertanyaan ”kerjakan atau mati” delegasi meskipun demikian memberikan petunjuk  atas kekuatan dan kelemahan dari orang yang diberi delegasi.
CARA MENJALANKAN DELEGASI
Dalam  menjalankan delegasi, kita sebagai pemimpin kepala sekolah sering ragu ragu dalam menjalankan delegasi, sebab ada hal hal yang sering kita mendelegasikan pekerjaan itu kepada orang lain mempunyai rasa takut, ada  resiko sebab ada perbedaan dan jarak antara kita dan orang yang kita serahi delegasi. Tetapi rasa takut  itu tidak perlu menindakan  pentingnya delegasi. Ada unsuur unsur yang menyangkut dengan delegasi
  1. apa yang diberi didelegasikan
  2. saling terbuka antara diberi delegasi dan menerima delegasi
  3. transparansi tentang delegasi
  4. ada harapan yang diserahi delegasi
  5. kekuasaan yang di serahi sepenunya
  6. pengawasan yang wajar
  7. orang yang di serahi delegasi
TUGAS YANG PERLU DI DELEGASIKAN
Taiylor, (1993 : 55-66) mengatakan Sepertinya sanagat meringankan beban kerja dan di beri tugas kepada bawahan mana secara potensial dapat didelegasikan  kepada bawahan mana secara potensial dapat didelegasikan kepada bawahan  dan mana yang tidak :
  • manfaat yang didelegasikan masing-masing tugas yang termasuk dalam ketagori tugas ini perlu di perimbangkan
  • pekerjaan rutin
  • pekerjaan yang merupakan  harus
  • pekerjaan yang terlalu banyak
  • hal-hal yang khusus
  • pekerjaan terus menerus sama
  • proyek-proyek yang menyenangkan
TIDAK BOLEH DI DELEGASIKAN
  • Upacara
  • Menentukan kebijakan
  • Masalah-masalah perssonalia yang khusus
  • Krisis
  • Masalah-masalah rahasia
BERBAGI KEKUASAAN DAN MEMBERI WEWENANG
Delegasi berarti bahwa pemberian wewenang dan delegasi merupakan konsep yang paling  utama. Sehingga dapat membentuk staf/atau guru guru /bawahan dalam organisasi (sekolah) untuk dapat meningkatkan kinerja. Hal ini kepala sekolah telah berbagi wewenang dengan bawahan dengan cara memberikan kesempatan untuk membuat.
Dalam pelimpahan ini juga sebagai motivasi yang ingin maju, untuk menambah keahlian, memperluas pengalam kerja dan ingin di beri tanggung jawab lebih oleh atasanya
Delegasi sebagai bentuk penegembangan kerja yang informal dapat membantu, mengontrol ambisi yang berlebihan. Teori motivasional mengagap delegasi sebagai alat motivasi yang bagus sekali karena delegasi :
  1. membantu untuk memeuaskan ego kebutuhan akan penghargaan (Abraham Maslow).
  2. memberikan karyawan kesempatan untuk berkembang dalam pekerjaan yang mereka lakukan sekarang (Feredik Herzberg)
  3. merupakan wujud kepercayaan dan percaya diri, yang merupakan inti dari manejer Teori Y (Douglas McGregor)
PILIH ORANG YANG TEPAT
Sperti kita ketahui bahwa, delegasi lebih dari sekedar memberikan orang untuk mengerjakan sesuatu. Dengan mengikuti cara pemlihan orang yang tepat dan teratur dan bijak, memilih bawahan dengan keahlian yang paling cocok dengan pekerjaanya, atau memilih staf atau karyawan yang sekiranya akan mendapatkan pengalaman yang berguna dari pekerjaan yang didelegasikan.
Untuk suatu pekerjaan yang berbobot pastikan bahwa anda mnunjukan betapa pentingnya pekerjaan tersebut bagi organisasi. Departemen, sekolah atau instansi jangan beranggapan bahwa anda akan secara otomatis memahami atau menghargai impas jangka panjang dari pekerjaan tersebut. Hal tersebut banyak memberikan konstribusi tersembunyi seperti :
  1. meningkatkan keahlian karyawan
  2. melengkapi kemampuan tim
  3. menunjukan sala satu area yang di targetkan untuk mengembangkan untuk rencana pengembangan karer
  4. bantulah kariawan atau staf memperoleh pengalaman sehingga siap menghadapi masaalah saat terjadi persoalan dalam pekerjaan.
Ada 4 hal yang harus diperhatikan dalam proses delegasi kekuasaan sehingga dapat berjalan efektif  keempat hal tersebut adalah :
  1. Dalam pemberian suatu delegasi kekuasaan atau tugas harus lah dibarengi dengan pemberian tanggung jawab.
  2. Kekuasaan yang didelegasikan harus pada orang yang tepat baik dari segi kualifikasi maupun segi fisik.
  3. Mendelegasikan kekuasaan pada seseorang juga harus dibarengi dengan pemberian motivasi.
  4. Pimpinan yang mendelegasikan kekuasaannya harus membimbing dan mengawasi orang yang menerima delegasi tersebut.
Dengan demikian pendelegasian kekuasaan mempunyai manfaat ganda diantaranya adalah:
  • Pimpinan dapat lebih fokus pada tujuan dan pekerjaan pokoknya.
  • Putusan dapat dibuat dengan lebih cepat dan pada unit yang tepat.
  • Inisiatiif dan rasa tanggung jawab bawahan dapat dimotivasi.
  • Mendidik dan mengembangkan bawahan sehigga mampu diberi beban tugas yang lebih besar dan berat lagi nantinya.
DELEGASI KEKUASAAN
Manajemen oleh delegasi kekuasaan dengan mendelegasikan pengelolaan transfer ke orang lain, pada tingkat lebih rendah kewenangan manajemen formal dan tanggung jawab untuk melaksanakan tugas tertentu., tugas dan tanggung jawab rutin dan operasional tetapi tidak tugas strategis.
Kekuasaan atau power berarti suatu kemampuan untuk mempengaruhi orang atau merubah orang atau situasi
KEKUASAAN
Kekuasaan dan keagungan berada diantara kesenangan setiap orang (Russel, 1938), dimana semua kesenangan dapat berada diatas segalanya hanya melalui kekuasaan (Nietzelsche,.1929). karena kekuasaan orang menjadi koruptor, dimana kewenangan dapat menjadikan orang leluasa membuat penyimpangan (Sennet, 1980), serta dengan kekuasaan orang akan mudah membuat kebobrokan dan kesalahan yang tidak menyenangkan orang lain pada umumnya (Niebuhr, 1949).
Dengan kekuasaan membuat orang memiliki wewenang untuk melakukan sesuatu di dalam kelompok yang mengakui kekuasaan tersebut, baik di dalam kelompok atau organisasi ssosial dan politik kemasyarakatan serta kelompok usaha bisnis. Kekuasaan itu memberi seseorang legitimasi untuk bertindak, dengan alasan pengamanan kepentingan kelomopok, kadang-kadang tidak dapat dibedakan dengan manajemen modern, definisi kekuasaan ini sudah mulai dipilih secara detail dan transparan, untuk mengukur hasil sesuatu kekuasaan yang harus dipertanggung jawabkan kepada pemberi kuasa, apakah kekuasaan dipergunakan sesuai dengan maksudnya kekuasaan atau tidak. Pertanggung jawaban (accountability) yang transparan maksudnya adalah supaya pertanggungjawaban pemegang kekuasaan dapat dilegitimasi oleh khalayak masyarakat dan kelompok yang ada, apakah sudah sesuai azas manfaat (utilities) dan azas kepentingan public (public walfare). Pengertiannya bahwa pemegang kekuasan menurut manajemen modern bukan hanya bertanggung jawab secara material, tetapi juga bertanggung jawab secara moral etika (ethic).
Berdasarkan teori organisasi dinyatakan, ada bentuk kekuasaan yang ada didalam suatu bentuk struktur organisasi, antara lain kekuasaan paksaan (coersive power), kekuasaan imbalan (reward power), kekuasaan yang legitimet (legitimate power), kekuasaan yang direkomendasi (reffernce power), dan kekuasaan karena keahlian (expert power), serta kekuasaan perwakilan (representatife power). Selanjutnya kekuasaan dapat dilihat berdasarkan jalur hirakhi, seperti kekuasaan atas dan kebawah (vertical power), serta kesamaping (lateral and diagonal power).
1. Kekuasaan Paksaan (Coersive Power)
Kekuasaan yang dengan paksaan pada dasarnya merupakan uasaha  atasan terhadap bawahannya untuk melaksanakan usaha menyelesaikan pekerjaan. Mereka akan dihukum dan dibuat frustasi apabaila tidak meyelesaikan pekerjaanya. Sebagai contoh, diiliustrasikan bahwa karayawan suatu perusahaan akan merasa takut dan bersalah apabila terlambat masuk bekerja, jika ketentuan aturan tentang disiplin kerja menyatakan demikian, maka setiap karyawanyang dating terlambat tidak akan dibayar uang makan dan pengganti biaya transpor. Setiap kali dating bekerja, karyawan yang dating terlambat akan ketakutan apabila melihat bagian personalia beridiri di depan pencatat absen, dengan demikian, selnjutnya karyawan tersebut akan berusaha hadir ditempat kerja tepat waktu dan tidak terlambat, akibat paksaan oleh aturan dan disiplin tersebut. Secara positif kekuasaan paksaan ini dapat dipergunakan pada kondisi dimana
karyawan belum memiliki tingkat kognisi yang memadai. Apabila kognisi karyawan semakin baik peningkatannya, maka efeksi atau perasaan sudah dapat mempertimbangkan sikap yang akan menjadi gambaran perilakunya, kondisi ini dapat dilakukan apabila ada program pendidikan dan pelatihan.
2. Kekuasaan Imbalan (Reward Power)
Kekuasaan yang terbentuk karena pemberian imbalan merupakan dasar bagi pengikut (bawahan) yang mempengaruhi kapasitas kerja mereka sesuai dengan besarnya imbalan yang diterima. Imbalan dapat membuat kepuasaan bawahan untuk beberapa pemenuhan kebutuhannya. Sebagai contoh, seseorang pekerja digaji sebesar lima ratus ribu rupiah untuk memproduksi 1000 unit barang, ternyata dapat dilakukan dengan baik. Kemudian pekerja tersebut dijanjikan tambahan insentif sebesar duaratus lima puluh ribu rupiah lagi, tetapi harus dapat menambah produksi sebesar 750 unit lagi barang, dan ternyata masih dapat terselesaikan dengan baik. Pada akhirnya, pekerja dijanjikan tambahan sebesar dua ratus lima puluh ribu rupiah lagi untuk tambahan produksi barang sebesar 750 unit barang, terakhir ini masih masih dapat dipenuhinya, tetapi sudah dengan daya yang paling maksimal. Apabila ditotal dengan imblan sebesar satu juta rupiah dapat memproduksi 2500 unit barang, sedang apabila hanya dibayar lima ratus ribu rupiah dia hanya dapat memproduksi 1000 unit barang saja, tetapi belum dalam kondisi kapasitas yang maksimal.
Dengan demikian, kekuasaan dengan imbalan dapat mempengaruhi orang untuk mengikuti perintah atasannya, apabila dapat imbalan meningkat, maka kekuasaan yang dimiliki atasan kadarnya lebih kuat dan sangat berpengaruh sebagai akibat dimana peningkatan imblan ini dapat membuat tingkat kepuasan meningkat untuk sementara. Pengaruh dari kekuasaan berdasrakan paksaan dan pemberian imbalan memiliki landasan berdasarkan proses yang dipengaruhinya. Maksudnya, bahwa kekuasaan tersebut dapat terbentuk apabila mempunyai tingkat kebutuhan yang dapat mempengaruhi tuntutan pekerja, sehingga pengakuan atas kekuasaan karena paksaan dan imbalan dapat terjadi. Semakin tinggi paksaan yang dilakukan, maka kuantitas dan kualitas imbalan juga akan semakin besar. Sebaliknya, apabila unsure paksaan tidak terlalu kuat, biasanya akan diikuti imbalan yang tidak terlalu menjanjikan. Keadaan seperti ini berlaku untuk setiap keadaan, tetapi hanya berlaku pada kondisi yang didiuraikan sebelumnya,
.3. Kekuasaan Dilegitimasi (Legitimate Power)
Seorang raja dipatuhi disebabkan dia adalah raja, dimana dia dapat meyakinkan rakyatnya bahwa dia dikatakan untuk menjalankan perintah tuhan, seperti Raja Mesir; karena dia percaya kepada tuhan (Friederich, 1958). Selanjutnya; “ Biarkan setiap orang menyebutkan dirinya telah mendapat kekuasaan, dan tidak akan mendapat ekekuatan tanpa penobatan dari Tuhan” (Roma, 13 ayat 1).
Falsafah-falsafah tersebut diatas menggambarkan bahwa kekuasaan harus direspons oleh pihak pengikutnya, apabila tidak ada respons dari pengikutnya, maka kekuasaan itu dikatakan hampa atau tanpa wibawa.
Seorang prajurit akan merespons posisi komandan karena pangkatnya lebih tinggi. Pada system tradisional, seorang pengikut akan selalu merespons pimpinannya (Peabdy, 1964). Maksudnya; ditujukan kepada siapapun bahwa pengaruh seseorang adalah diasosialisasikan sebagai prediksi dari keunggulan yang besar dari penggunaan kekuasaan yang harus dilegitimasi secara tradisional.
4. Kekuasaan Referensi
Pengaruh yang didasari atas rekomendasi dari kepercayaan yang tersembunyi didalam diri seorang pemimpin besar disebut sebagai “Kharisma” (Weber, 1964). Sebaga contoh, Napoleon Bonaparte atau Joan of Arc merupakan pemimpin yang kharismatik yang diakui oleh pengikutnya serta merupakan pemberian tuhan.
Kepemimpinan terbentuk karena bentuk kepribadian yang ditampilkannya dapat memberi gambaran pada pengikutnya tentang pemenuhan pengharapan pengikutnya. Penampilan bukan kenyataan; bahwa kekuasaan pemimpin yang kharismatik adalah hubungan dan perilaku dengan performa. Kemampuan untuk mencapai sukses, dan dapat mengatasi kelemahan dan kegagalan yang berkelanjutan adalah bukan mistik, tetapi merupakan bentuk rekomendasi dari kekuasaan yang sudah mulai memudar (Mintzberg, 1984). Kharisma dapat membentuk penampilan yang menciptakan performa bagi seorang pemimpin di dalam mengatasi kegagalan dan kelemahan yang dimilki.
5. Kekuasaan Keahlian (Expert Power)
Gambaran dari para manajer yang berskala internasional adalah dapat membuat strategi yang istimewa untuk mengatasi pengaruh-pengaruh yang sangat dominan terhadap setiap permasalahan. Dengan pendekatan pada pengaruh, diikuti dengan respons yang menyebabkan yang sangat diyakini seorang pemimpin, akan dapat diketahui apa yang akan dikatakan; seberapa besar penyebab yang mempengaruhi disbanding kemampuan yang dimiliki untuk mengetahui pengaruh itu (Albanese, 1973).
Kepercayaan dari pengikut dapat terjadi sebagai akibat dari pengaruh strategi kepemimpinan untuk menciptakan popularitas, yang kemudian menjelma menjadi kepercayaan yang sangat kuat bagi pengikutnya, serta kemampuannya untuk meyakinkan atasannya dengan keahlian kepemimpinannya. Seperti dijelaskan pada
gambar 46 pada halaman berikutnya. Keahlian manajer memposisikan diri dapat dilihat dari dua sisi, yaitu ketika dia dipengaruhi atasannya sendiri (top manajemen), dan ketika dia mempengaruhi bawahannya. Ketika manajer dipengaruhi atasannya langsung maka : pertama; apabila dia dapat bergabung dengan konsep atasannya tersebut, antara lain mengikuti terus kemauan atasannya, dia akan menjadi sangat popular dihadapan
atasannya itu. Kedua; apabila manajer hanya bersikap ramah, tetapi tidak secara penuh merespons konsep atasannya, dia masih popular, tetapi kepopulerannya tidak sekuat kondisi pertama tadi. Ketiga; apabila manajer mulai mengadakan posisi tawar menawar dengan atasannya, dia mulai tidak popular lagi dihadapan atasannya. Keempat; apabila sikap manajer mulai tegas dengan pendiriannya, untuk menilai konsep atasannya, maka dia semakin tidak popular lagi dihadapan atasannya. Terakhir; manajer bertindak dengan kewenangan penuh sesuai uraian tugas dan tanggung jawabnya (job describition), didalam menilai konsep atasannya, maka sikap dan penilaian atasannya terhadap manajer tersebut sudah benar-benar tidak popular lagi, disebabkan kemungkinan akan banyak perintah atasan yang tidak harus dilakukan apabila manajer menilaikan berdasarkan tugasnya.
a. Keahlian Menganalisis Risiko
Pada umumnya pasien (orang sakit) akan lebih yakin dan percaya apabila berobat ke dokter yang telah berpengalaman (specialist), yang telah meiliki rekor penyembuhan orang sakit, dibandingkan kepada dokter yang baru yang belum banyak pengalaman. Demikian juga pengikut (bawahan), akan lebih mengakui pimpinannya apabila pimpinan itu telah banyak pengalaman dan mampu untuk menganalisis serta memperhitungkan risiko yang mungkin terjadi, umpamanya memperkecil risiko kecelakaan kerja serta memperkecil kerugian materi bagi bawahannya.
b. Meyakinkan Pengikut (Bawahan)
Pemimpin yang mampu meyakinkan pengikutnya (bawahan) secara rasional akan dapat menjelaskan bagaimana kativitas harus dilakukan dengan suatu performa yang minimal harus dimilki. Pengikut akan mematuhi atasannya apabila pengikut diberi pengertian serta alas an mengapa di dalam pelaksanaan sesuatu tugas dibutuhkan suatu kesepakatan didalam menentukan sasaran dan tujuan dari kelompoknya.
6. Kekuasaan Perwakilan (Representative Power)
Kekuasaan perwakilan (representative power) merupakan kekuasaan yang diperoleh karena pemegang kekuasaan tersebut dipercaya kelompok sebagai delegasi untuk menyelesaikan tuntutan dan harapan pengikutnya. Pendelegasian kekuasaan kepada pimpinan dimungkinkan sepanjang bawahan mengetahui batas kemampuan pimpinan yang dilegitimasi tersebut. Sebaliknya, apabila bawahan sudah mengetahui kemampuan dari pimpinan itu tidak layak untuk menerima delegasi kekuasaan, maka kelompok atau pengikut akan menarik kepercayaannya dan tidak lagi mengakui kekuasaan pemimpin itu.

No comments:

Post a Comment