Monday, June 16, 2014

JANJI

“Tari! Kamu harus janji ya!” “Janji apa Riani?” “Kan aku udah janji, aku bakalan balik lagi ke sini dua tahun lagi, kamu juga harus janji kalau waktu itu tiba kamu harus udah berjilbab ya!!” — Matahari sudah muncul dan membungkam ayam yang biasa berkokok dikala subuh, namun Tari masih meringkuk di tempat tidurnya. “Tari!!! Bangun nak, katanya kamu harus berangkat pagi, hari ini!!” teriak mama Tari dari depan pintu kamar Tari. “Mmmm.., iya ma…” balas Tari alakadarnya. Padahal jam weker digitalnya sudah menunjukkan angka 06.03, tapi masih saja rasa kantuk menyerang Tari. Akhirnya Tari beranjak dari tempat tidurnya dan masuk ke kamar mandi ketika mendengar piring pecah yang dijatuhkan mama Tari. Padahal itu tidak sengaja, tapi karena Tari takut mamanya marah-marah di pagi hari sampai memecahkan piring karena Tari telat bangun, akhirnya Tari beranjak dari tempat tidurnya. Setelah mandi seragam SMA Tari sudah melekat di tubuhnya, ia memandangi wajahnya di cermin meja riasnya. Dia teringat mimpinya semalam tentang percakapan terakhirnya dengan sahabat sejak kecilnya sebelum sahabatnya itu pergi ke luar negeri. Saat itu mereka kelas tiga SMP, sahabat Tari, Riani, harus pindah ke Singapura untuk menjalani perawatan karena Riani terserang penyakit kanker paru-paru. Sebelumnya keluarga Riani sudah melakukan berbagai pengobatan di Indonesia, dari ke tabib-tabib hingga kemoterapi. Hal itu sudah dijalani Riani selama dua bulan, tapi tetap saja kanker yang diderita Riani terus menjadi lebih ganas. Akhirnya keluarga Riani pindah ke Singapura dengan harapan pengobatan di sana bisa mempertahankan keberadaan Riani di dunia lebih lama, terlebih lagi karena Riani merupakan anak tunggal dan cucu satu-satunya dari keluarga ayahnya. Pengobatan di Indonesia sudah dijalani Riani sejak semester satu kelas tiga SMP. Tak ayal, banyak efek samping yang dia terima, salah satunya efek kemoterapi yang menyebabkan Riani kehilangan mahkotanya, rambut panjang ikal yang lebat nan hitam. Akhirnya Riani memutuskan mengenakan jilbab mulai saat itu. Tari heran sebenarnya, kenapa Riani lebih memilih berjilbab dibanding tudung kain yang Tari sarankan pada waktu itu? Tari memang tidak suka memakai jilbab, karena menurutnya berjilbab itu panas dan gerah. Tapi setelah melihat Riani nyaman dan lebih sabar mengahadapi penyakit yang dideritanya setelah memakai jilbab, mungkin karena sejak itu juga Riani mulai dekat dengan Allah. Tari jadi tidak bisa memaksakan sarannya pada Riani. Riani juga sering mengajak Tari sholat, sehingga sampai saat ini, semalas apapun Tari dan setelat apapun Tari bangun dia tetap sudah melakukan sholat lima waktu. Hingga pada saat detik-detik kepergian Riani ke Singapura, Riani memintanya berjanji untuk sudah memakai jilbab ketika Riani kembali. Permintaan Riani itu layaknya sambaran petir pada Tari, karena Tari benar-benar tidak suka memakai jilbab, sekali lagi, BENAR-BENAR TIDAK SUKA. Tentu saja alasannya sudah tertulis di paragraf sebelumnya. Terbukti hingga saat ini, tepat seminggu sebelum kepulangan Riani ke Indonesia, mahkota bagi umat Islam, khususnya kaum hawa itu belum terpakai secara permanen di kepalanya. — Tari kembali memandangi wajahnya di cermin, kini rambutnya tak terlihat karena sudah tertutupi jilbab yang baru saja dipakainya. Sayangnya, jilbab ini dipakainya bukan untuk menepati janjinya pada Riani, tapi untuk memenuhi aturan sekolah yang mewajibkan setiap murid perempuan yang muslim memakai jilbab di hari Jum’at karena akan diadakan kegiatan iman dan taqwa (IMTAQ). “Hhaahhh..,” Tari menghembuskan nafas panjang. Jujur saja, permintaan terakhir Riani sebelum dia pergi itu sangat memberatkan bagi Tari. Tapi Tari bertekad, hari ini dia akan mempertahankan jilbabnya sampai pulang sekolah. Walaupun dia tau, tekad ini sangat rapuh, dan akan mencair seiring bertambahnya temperatur bumi di siang hari. “Hhaahh..” Tari menghembuskan nafas panjang lagi, lalu beranjak untuk pergi ke sekolah. Bel tanda pelajaran masuk sudah berbunyi sejak 15 menit yang lalu, tapi kegiatan Tari tidak berubah sejak masuk ke kelasnya setelah kegiatan IMTAQ selesai. Dia termenung sendiri. Jilbab yang tadi pagi dipakainya kini sudah lepas dari kepalanya. Tari masih terngiang-ngiang perkataan ustad yang mengisi acara IMTAQ tersebut yang entah kenapa temanya sama dengan apa yang sejak tadi pagi menjadi kegalauan hatinya yaitu “Keutamaan Berhijab”. …kalau kalian, kaum hawa, tidak memakai jilbab karena alasan panas dan gerah, coba bandingkan panasnya dunia dengan panasnya api neraka!!… Tari selalu merinding setiap memikirkan perkataan ustad itu. Akhirnya, satu-satunya alasan Tari untuk tidak menutup aurat telah dipatahkan. Pikirannya mulai mencari-cari alasan apa lagi yang bisa dipakai untuk penundaan selanjutnya, tetapi tetap saja tidak ketemu. “Tapi aku kan belum siaappp!!!” ujar Tari gusar. Untungnya saat itu suasana kelas sedang ramai sehingga yang mengetahui kegusaran Tari hanya orang yang ada di sebelahnya yang pastinya bukan teman sebangkunya, karena teman sebangkunya kini sedang tidak masuk sekolah. “Mmm, apanya yang belum siap?” terdengar suara asing tepat di sebelah Tari. Tari langsung menoleh kaget. Di sebelahnya sekarang duduk seorang gadis berjilbab yang memandanginya heran. Tari memasang wajah heran dan kaget, karena dia benar-benar tidak mengenal orang yang sekarang ada di sebelahnya ini. Gadis yang ada di sebelahnya ini kini tersenyum maklum. “Maaf, kamu pasti nggak kenal aku kan?” Tari merasakan pipinya memanas, pasti wajahnya mengatakan kekagetannya walaupun dia tidak berbicara apa-apa. “Aku anak baru, tadi saat aku memperkenalkan diri pasti kamu lagi melamun seperti tadi.” anak itu kemudian mengulurkan tangannya. “Namaku Ina, Inair A. Wardoyo” katanya ramah. Tari terpaku sesaat, Wardoyo, Wardoyo, kok perasaan pernah denger ya? Kemudian Tari sadar sudah menggantungkan tangan Ina yang terulur dan segera menyambut uluran tangan tersebut. “Tari, Ihda Mentari.” Ucap Tari hampir tak terdengar. Lalu melirik ke arah Ina yang entah kenapa sekarang terlihat gusar. “Mmm, maaf ya sebelumnya. Kamu ini agamanya apa?” tanya Ina dengan suara selirih hembusan angin, namun dampaknya terhadap Tari sangat besar. Tari merasa seperti ada panah yang menembus jantungnya dan menyuarakan bunyi JLEB yang sangat keras. “Maksud kamu apa?” Tari balas bertanya dengan ketus. Ia melihat Ina malah tesenyum dan berkata lembut padanya. “Kalau melihat dari reaksimu, pasti kamu Islam ya kan?” tanya Ina, tapi Tari tahu, Ina tidak membutuhkan jawabannya karena setelah bertanya, Ina langsung melanjutkan. “Soalnya kalau aku nanya seperti itu sama orang non islam pasti dia jawab biasa aja.” Tari cemberut, Ina ini ngomong apa sih? “Ooooo..,” Tari memutuskan untuk ber-ooo panjang, lalu melihat ke sekeliling kelas. Dia baru sadar kalau sekarang lagi tidak ada guru. Seingatnya guru yang masuk ke kelasnya hanya wali kelas yang mungkin masuk hanya untuk memperkenalkan orang yang sekarang ada di sebelahnya ini. “Eh, kok nggak ada guru sih? Kamu tahu kenapa?” Wajah Ina menjadi cerah karena Tari tidak menyuekinya lagi. “Hari ini nggak belajar, mau persiapan UN kelas 3 minggu depan katanya.” Tari mengangguk-angguk lalu diam kembali. Tiba-tiba Tari sadar, persiapan UN kelas 3? Berarti udah akhir tahun pelajaran dong? Kok bisa Ina… “Kamu kok….,” “Eh Tar, ke kantin yuk? Sekalian muter-muter, kan hari ini hari pertama aku di sini.” Ina memotong ucapan Tari. Seketika Tari terdiam, dan menyadari perutnya keroncongan karena tidak sempat makan tadi pagi. Tari akhirnya memutuskan untuk ke kantin diikuti Ina dan menyimpan petanyaannya hingga nanti. Di kantin, ternyata yang memesan makanan hanya Tari, sedangkan Ina hanya menonton Tari makan. “Kok nggak makan? Kan kamu yang ngajak.” Tanya Tari sambil terus menyuap bubur ayam yang baru diantarkan ibu kantin. “Udah kenyang. Aku ngajak kamu soalnya kamu kelihatan kelaparan.” Jawab Ina santai. Tari meringis. “Eh, soal pertanyaan tadi, maaf ya.” Ujar Ina tiba-tiba, sebenrnya dia hanya memancing Tari. Namun, Tari sudah tidak mau mengambil pusing soal itu lagi, jadi dia hanya mengangguk. “Tapi, jujur nih. Aku nggak pernah lho ditanyaiin seperti itu sama orang.” Pancing Ina lagi. Tari langsung melotot ke arahnya. Ina tersenyum. “Kamu nih ya..,” Tari menggeleng-gelengkan kepala. “Kamu kan pakai jilbab! Jadi..,” “Jadi karena aku pakai jilbab jadi apa?” potong Ina sambil tersenyum. “Kalau aku pakai jilbab semua orang tau kalau aku muslim ya kan?” lanjutnya. “Kesimpulannya jilbab itu merupakan identitas setiap muslimah! Keren kan?” tutupnya dengan semangat. Seketika Tari tertegun, entah karena dari semangat Ina yang mirip dengan Riani atau dia yang baru sadar akan arti lain jilbab dari setiap muslim. “Kamu bangga ya pakai jilbab?” sebuah pertanyaan tiba-tiba terucap dari mulut Tari. “Iya, dong!! Dan tahu nggak Tar? Itu cuma salah satu dari sekian banyak keutamaan berjilbab.” Ucap Ina makin semangat. Berkebalikan dengan Tari yang kini hanya terdiam memandang bubur ayamnya. Tari teringat kembali tentanng janjinya kepada Riani. Mungkin Allah SWT membantu dia untuk menepati janjinya melalui Ina ini. “Ina.” Panggil Tari setelah terdiam cukup lama. “Apa Tar?” jawab Ina cepat. Tari menghela nafas panjang sebelum melanjutkan. “Ada yang mau ku ceritain ke kamu. Mungkin aneh ya? Habisnya kita baru aja ketemu. Aku harap nanti kamu bisa bantu memecahkan masalahku.” Dan mengalirlah cerita tentang Riani dari mulut Tari. Cerita yang Tari tidak menyangka ternyata cukup menguras emosinya, sehingga curhatan Tari diselingi dengan isak tangis. Sampai pada akhirnya, Tari juga menceritakan permintaan terakhir Riani dan betapa sulitnya Tari memenuhi permintaan tersebut. Setelah hampir 15 menit Tari bercerita, Tari malah mendapatkan komentar yang sangat tidak disangkanya dari Ina. “Ternyata kamu egois ya!” ucap Ina. Seketika Tari mematung. “Tau nggak sih Tar? Dibanding kamu, yang lebih menderita tuh si Riani. Kamu kira gampang Riani memenuhi janjinya untuk bisa pulang ke sini 2 tahun lagi? Riani tuh kena kanker Tar, hidup sebulan aja udah bersyukur.” Kata Ina terdengar kecewa. Amarah Tari keluar ketika mendengar kalimat terakhir Ina. “KAMU TAU APA NA?” “Aku tahu banyak Tari. Seharusnya kamu bisa membandingkan usaha kamu untuk memenuhi janji dengan usaha Riani agar bisa hidup selama dua tahun! Nggak sebanding tau! Maksud Riani tuh baik buat kamu! Kamu kira gampang untuk tetap hidup kalau kena penyakit kanker!” Ina menjelaskan dengan penuh penekanan. Tari kini tersentak, kalimat penuh penekanan Ina menyadarkan dirinya yang sudah begitu egois. Dia pun hanya terdiam sampai bunyi bel pulang berbunyi. “Ina, kamu bisa bantu aku untuk memenuhi janjiku?” kata Tari kemudian. Tari bisa melihat senyum yang mengembang di wajah Ina. “Aku bisa bantu kamu. Aku bisa bebas bantu kamu enam hari ke depan.” ucap Ina dengan nada yang tidak lagi penuh penekanan. Tari mengerutkan keningnya. “Kok bisa bebas?” tanyanya. Ina terdiam sebentar, lalu tersenyum lagi. “Soalnya, enam hari kedepan kita free.., gara-gara anak kelas tiga ujian” jelasnya. Tari mengangguk-angguk. Tiba-tiba dia teringat pertanyaannya yang belum selesai dia tanyakan ke Ina. Tapi dia memutuskan untuk menanyakannya lain kali. JANJI Enam hari yang panjang dilewati Tari dengan penuh pengorbanan. Tapi akhir yang didapatkannya sangat menguntungkan. Dari Ina ia belajar untuk mengenal Islam, khususnya soal menutup aurat. Tari jadi lebih mengetahui keutamaan-keutamaan menutup aurat dari Ina dengan didukung oleh ayat-ayat yang ada di Al Qur’an. Contohnya saja Ina memberi tahunya keutamaan menutup aurat dengan surat Al Ahzab ayat 59 yang mengatakan bahwa dengan berjilbab (menutup aurat) seorang muslimah akan lebih mudah dikenali dan dia tidak akan diganggu oleh orang-orang jahil. Juga pada surat Al A’raaf ayat 26 yang mengatakan bahwa menutup aurat itu merupakan salah satu bentuk ketakwaan. Akhirnya, Tari dengan sepenuh hati memenuhi salah satu kewajiban setiap muslimah itu. Hari ini adalah hari pertemuan kembali Tari dengan sahabatnya. Sejak pagi Tari sudah siap-siap dan kini dia sudah berjalan ke taman tempat dulu Riani menyatakan permintaan terakhirnya sebelum dia pergi. Tari menunggu berjam-jam, akan tetapi tidak terlihat wujud yang dikenal Tari satu pun di sekitar taman. Tiba-tiba hanphonenya berdering. Telepon dari mamanya. “Assalamualaikum, Ma, ada apa?” Tari terkejut karena yang didengarnya pertama adalah isak tangis. “Riani meninggal pagi ini Tari.., Riani sudah koma sejak seminggu yang lalu..,” perkataan mamanya seketika meluruhkan tubuh Tari. Ia terduduk di rerumputan taman. Tari kembali teringat kata-kata Ina tentang kanker yang entah kenapa tidak disadarinya sejak awal. Akhirnya Tari menangis. Tari menjadi ingat Ina. Dia ingin bertemu Ina tapi dia tidak tahu bagaimana cara menghubunginya. Selama dia belajar Islam dari Ina mereka hanya berjanji untuk bertemu di sekolah di jam yang sudah ditentukan sebelumnya, Ina tidak pernah memberi tahu nomer handphonenya. “Ina, Ina, Ina..,” Tari menyebut nama Ina, entah kenapa ia berharap Ina dapat mendengarnya. Tiba-tiba ia teringat sesuatu “Ina… Inair, Inair… RIANI!!” “Apa Tari??” Tari tersentak dan melihat ke belakang dilihatnya Ina yang sedang berjalan ke arahnya. Semakin Ina mendekat, wajahnya semakin mirip dengan Riani. Hingga Tari yakin yang berdiri di hadapannya kini memang Riani. “Riani..,” ucapnya lirih. Riani tersenyum. Dan memeluk Tari. “Maafkan aku, aku nggak bisa menepati janji. Kamu.., tetap istiqomah yaa..,” ucap Riani. Tari tertegun, ia baru menyadari sesuatu. Pantas saja Ina bisa pindah sekolah di akhir tahun, karena sebenarnya dia tidak pindah, tapi hanya hadir dan disadari oleh Tari seorang. Tari sekarang juga tahu Wardoyo yang ada di belakang nama Ina adalah nama belakang Riani yang biasanya disingkat “W” dan “A” pada nama Ina adalah “Amalia” pada nama Riani. Ina tidak pernah makan selama bersama Tari, karena memang Ina hanya sesosok roh yang hanya diketahui Tari seorang. Kenapa dia baru menyadarinya sekarang? Tari kembali tersentak. Bahkan di akhir hidupnya Riani masih sempat membantunya untuk berada di jalan yang diridhai Allah. Air mata Tari kembali menetes saat Riani hanya terlihat seperti kabut saja. Rasa penuh terimakasih memenuhi dadanya. “Terima kasih, Riani…”

No comments:

Post a Comment