Monday, June 16, 2014
puisi cintaku jauh di pulau-chairil anwar
Cintaku Jauh di Pulau
Cintaku jauh di pulau
Gadis manis, sekarang iseng sendiri
Perahu melancar, bulan memancar
di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar
angin membantu, laut terang, tapi terasa
aku tidak ‘kan sampai padanya
Di air yang tenang, di angin mendayu
di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertakhta, sambil berkata:
“Tujukan perahu ke pangkuanku saja.”
Amboi! Jalan sudah bertahun kutempuh!
Perahu yang bersama ‘kan merapuh
Mengapa Ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!
Manisku jauh di pulau,
kalau ‘ku mati, dia mati iseng sendiri.
puisi senja di pelabuhan kecil-chairil anwar
Senja di Pelabuhan Kecil
Buat Sri Ayati
Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut
Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak
Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap.
puisi tak sepadan-chairil anwar
TAK SEPADAN
Aku kira:
Beginilah nanti jadinya
Kau kawin, beranak dan berbahagia
Sedang aku mengembara serupa Ahasveros
Dikutuk-sumpahi Eros
Aku merangkaki dinding buta
Tak satu juga pintu terbuka
Jadi baik juga kita padami
Unggunan api ini
Karena kau tidak ‘kan apa-apa
Aku terpanggang tinggal rangka
Februari 1943
puisi aku-chairil anwar
Aku
Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan akan akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
Dua yang Hilang – oleh Enan Wahyudi
Dua yang Hilang – oleh Enan Wahyudi
Jika kau bukan dia yang pertama Jika kau pun tak pernah mempermanisku hingga terlena Lalu pergi mengingkari rasa Dalam ceritaku yang berubah lara Semua kenanganmu ingin kuhapus Menghapusmu aku terus merindumu Merindumu aku semakin terluka Dalam luka aku masih cinta Cinta ini menjadi tak termaafkan Kau adalah dua yang hilang Di antara dua kenangan berjeda…
puisi layang-mujahid firdaus
Layang – layang – oleh Mujahid Firdaus
ikut senang untuk layang-layang yg terbang dengan indahnya………….. rasanya ingin memegang benang yang mengikatnya, membawanya kesana kemari.. menjaganya agar tidak terlilit benang-benang lain, menghindarinya dari pepohonan, dan tiyang-tiyang listrik yg mnjulang dengan gagahnya.. uh, indah nian…..menari bersama awan, di kelilingi capung-capung, dikecup angin sejuk… tapi sayang……… benang itu milik tetangga, ia terpanjar di pagar yang…
puisi dalam do'a
Dalam Do’a
Daku meminta… Jika bukan karena puan Tak larik gurat pena di atas kertas Jika bukan karena puan Tak’ akan rindu ini, dikekang ajal Jika sezaman berlalu Tak pula waktu kuasa kuhentikan Karena takdir itu kehendakMU Bukan puan hak bertitah… Kalau saja tangan mampu mengepal Mengapa duka kita campakkan Sedangkan bahagia, kuasaMU ku abaikan Seandainya malam…
Subscribe to:
Posts (Atom)